“Fitnah Merenggut Nyawa’’

“Fitnah Merenggut Nyawa’’

(Kisah Para Rasul 6: 8-12)

… “Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: ”…(ay.11)

Yohanes Chrisostomus, uskup Konstantinopel pernah berkata, “fitnah lebih buruk daripada kanibalisme.” Ucapannya ini benar, karena fitnah tidak hanya mampu membunuh secara jasmani, tetapi juga merusak mental dan psikis seseorang. Akibat fitnah, keluarga berantakan, pekerjaan hilang, peluang musnah, nama baik rusak, pertemanan renggang, dsb. Ya, fitnah lebih kejam daripada pembunuhan! Namun sangat disayangkan, masih banyak orang suka menebar fitnah tentang sesamanya demi kepuasan dan kepentingan pribadinya. Ini dialami Stefanus yang menjadi korban fitnah sejumlah rohaniwan yang merasa harga diri mereka terluka akibat kalah debat. Mereka enggan mengakui kekurangan pribadi dan kehebatan orang lain. Akibatnya, sepakat memfitnah Stefanus lalu merajamnya hingga mati. Demikianlah nasib Diaken Yunani yang penuh hikmat karena karunia dan tuntunan Roh Tuhan itu! Ia mati karena ego sejumlah orang yang berhasil memobilisasi massa untuk melakukan kejahatan bersama.

Kisah ini memperingatkan kita bahwa fitnah dapat memakan banyak korban. Tidak hanya si korban fitnah, tetapi juga para pendengar fitnah yang percaya dan menyebarkannya. Bagaimana cara mencegah dan menghentikan fitnah? Pertama, jujur terhadap diri sendiri. Akui segala kekurangan diri dan hargai kelebihan orang lain. Hentikan iri hati dan benci, berupayalah meningkatkan kualitas pribadi dengan cara yang benar sebagaimana dikehendaki Allah. Selanjutnya, ujilah segala sesuatu dengan seksama. Jangan mudah terperdaya apalagi terprovokasi segala sesuatu yang disampaikan langsung maupun tidak langsung. Jangan biarkan rasa kagum terhadap seseorang, ataupun solidaritas sebuah kelompok, serta kepentingan tertentu yang membutakan logika, melenyapkan akal sehat, dan membungkam hati nurani. Carilah kebenaran, maka kita terhindar dari jerat si pemfitnah yang suka ‘melempar batu sembunyi tangan’. Cintailah kebenaran agar tidak menjadi pelaku kekerasan, kejahatan dan ketidakadilan terhadap sesama. Akhirnya Tuhan menolong dan memampukan kita untuk tetap sabar dan berani mewartakan kebenaran apapun risikonya. Selamat melanjutkan karya-layan di pekan yang baru ini.