“Nyatakanlah Syukurmu’’

“Nyatakanlah Syukurmu’’

(Efesus 1 : 15-18)

…Setelah aku mendengar tentang imanmu dalam Tuhan Yesus dan tentang kasihmu terhadap semua orang kudus, (ay.15)

 

 

Hidup adalah syukur. Syukur yang tidak hanya pada situasi yang menyenangkan atau memberikan sukacita, tetapi juga pengalaman pahit yang dialami. Mengapa? karena “syukur” berarti kita menerima setiap rencana Allah yang terjadi dalam perjalanan hidup dan semua adalah baik bagi kita. Demikian ungkapan Rasul Paulus kepada jemaat di Efesus. Dalam keberadaannya dalam penjara di Roma, Paulus sangat bersyukur atas pertumbuhan iman jemaat di Efesus yang dinyatakan dari dukungan mereka terhadap orang-orang kudus (ay.16). Paulus juga mendoakan agar jemaat di Efesus terus memiliki iman dan bertumbuh dalam memiliki pengetian dan pengenalan akan Kristus (ay.17). Tujuan agar teguh berpengharapan hanya dan kepada kuasa-Nya… ”supaya Ia menjadikan mata hatimu terang…” (ay.18). Dengan demikian tidak mudah diombang-ambingkan oleh pengajaran dan pengenalan sesat yang berdampak pada buah pelayanan yang tidak benar.

Banyak peristiwa dan pengalaman iman yang kita alami. Mari kita renungkan bersama, apakah semuanya membuat kita lebih bersyukur atau sebaliknya. Dalam sukacita yang diberikan apakah kita masih mengeluh dan bersunggut-sunggut. Masih menyalahkan dan mempersoalkan apa yang kita alami dan terima. Kita masih menilai bahwa segala yang menyenangkan adalah baik. Dan sebaliknya segala yang pengalaman yang tidak menyenangkan adalah tidak baik. “Apa yang menyenangkan belum tentu baik bagi kita, dan segala yang tidak menyenangkan belum tentu tidak baik bagi kita”.

            Belajar dari jemaat di Efesus, hendaklah kita lebih menghayati makna kasih dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita. Jangan pernah mengeluh, berikan yang terbaik bagi pelayanan sesama. Inilah bentuk syukur yang Allah inginkan dari kita. Mulailah mensyukuri berkat-berkat-Nya, apapun yang kita alami. Semuanya pasti untuk kebaikan kita. Sudahkah syukur dipanjatkan pagi ini?